Jumat, 08 Juni 2012

Dampak Penambangan Timah


Saya cuma ingin berbagi pengalaman kepada saudara, teman dan agan agan untuk mengenal secara singkat dan lebih dekat tentang Pulau Bangka dari sisi lingkungan dan kaca mata orang miskin khususnya di pulau Bangka

DAMPAK NEGATIF PENAMBANGAN TIMAH

salah satu kolong di pulau Bangka

Pulau Bangka dan Belitung, ketika mendengar nama kedua pulau ini sebagian besar orang Indonesia akan mengingat bahwa kedua pulau ini adalah daerah penghasil timah putih terbesar di Indonesia dan kedua di dunia hingga saat ini, dengan nilai harga jual yang tinggi membuat masyarakat Bangka juga orang orang dari luar pulau Bangka begitu berambisi untuk mengeruk keuntungan dari hasil penambangan timah. pelaku usaha ini bisa bermacam ragam suku, etnis dan agama mulai dari rakyat biasa sebagai usaha perorangan atau berkelompok hingga perusahaan besar swasta  termasuk perusahaan BUMN (PT.Timah berdiri sudah dari jaman Belanda cuuy..).
Pesatnya eksploitasi tambang timah ini sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda hingga pada tahun 2002 ketika pemerintah daerah memberikan jalan lebih mudah kepada warga setempat dan perusahaan swasta skala kecil  agar dapat ikut berpartisipasi dalam mengeksploitasi lahan pertambangan timah untuk memperbaiki perekonomian masyarakat bangka secara umum. Bagi masyarakat luas di Bangka mungkin ini adalah kabar gembira untuk mereka karena usaha ini sangat menggiurkan karena dengan waktu singkat dapat memperoleh keuntungan yang lumayan karna harga jual yang menjanjikan, dan hal itu masih berlangsung hingga kini
Seiring berjalannya waktu tanpa disadari oleh masyarakat bangka, pertambangan timah ini memiliki banyak dampak negatif terhadap masyarakat terutama lingkungan di pulau bangka entah itu penambangan timah darat atau penambangan timah laut hingga saat ini dampak negatif yang di berikan pada usaha bidang pertambangan ini sudah sangat jelas terasa seperti; adanya kolong, rusaknya ekosistem darat dan laut juga mempengaruhi psikologis masyarakat  Bangka walaupun yang satu ini belum begitu terasa

A.     Terbentuknya Kolong di darat,  bukan terbentuk dari alam seperti halnya danau danau di daerah lain namun itulah hasil akhir dari penambangan timah yang tidak terkoordinasi dan bersifat ilegal biasanya membuat pelaku usaha meninggalkan lahan yang mereka kerjakan karena sudah tidak produkti dalam bentuk kolong seperti seseorang yang sedang membuat kolam tapi dengan ukuran 10 sampai 1000 kali lebih besar dari kolam biasa, apa dampak yang terjadi dari pembentukan kolong ini;
·        kolong akan menampung air dari hujan atau dari daerah yang lebih tinggi namun tidak dapat mengalirkannya kembali kedataran rendah secara baik sehingga pada saat curah hujan meningkat air yang tidak dapat tertampung akan meluap ke pemukiman warga setempat dan infrastruktur lainnya contohnya seperti jalan akan lebih mudah rusak,
·        akibat genangan air di kolong dan sedikitnya habitat mahluk hidup di tempat tersebut membuat perkembangan nyamuk demam berdarah meningkat lebih banyak, ini telah dibuktikan dengan banyaknya jumlah penderita demam berdarah yang jumlahnya terus meningkat,
·        sumur gali milik warga yang kurang begitu dalam  akan sangat terganggu dalam hal volume air dan kualitas jika di sekitar sumur tersebut ada aktivitas penambangan timah, karna penambangan timah umumnya menggali tanah dengan kedalaman antara 8-20 meter,
·        kolong kolong dibangka memiliki sisa endapan logam dan lumpur yang dapat menyebabkan kematian bagi masyarakat setempat, karna , anak anak, remaja dan dewasa sering menggunakkanya sebagai sarana tempat bermain dan berenang. saat ini sudah banyak terjadi warga tenggelam dan meninggal di kolong,
·        memang keberadaan kolong ini sering kali dimanfaatkan warga sekitar untuk MCK sebagi pengganti sungai yang terkontaminasi, tanpa di sadari unsur mineral logam dan asam yang belum mengendap dapat menjadi racun dan memiliki tingkat radiasi yang tinggi hal ini juga bisa menjadi pemicu tingginya penderita kanker.

B.     Rusaknya Ekosistem di Darat, lokasi penambangan  dimulai dari bibir pantai hingga hutan produksi dan tidak sedikit hutan lindung/ konservasi menjadi target mereka entah itu dikerjakan secara legal ataupun ilegal, jadi sudah hampir setengah dari luas hutan di pulau bangka sekarang menjadi daratan pasir, membuat kayu jenis Garu, Meranti, seruk dsb menjadi sangat langka,
Saat ini efek global warming pun sudah sangat terasa di pulau Bangka, walaupun awalnya memang sudah terkenal panas lohh.
Pantai pantai yang dulu terlihat eksotis kini terlihat sangat memprihatinkan banyak yang memang diurus tapi juga tidak sedikit rusak dikarenakan adanya kegiatan penambangan disekitar pantai contohnya Pantai Rebo,


kegiatan usaha ini juga banyak menyebabkan daerah aliran sungai (DAS) mengalami pendangkalan akibat dari sisa lumpur tanah yang dibuang ke sungai selanjutnya akan menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir, dan tidak sedikit pula berakibat hilangnya anak sungai  karena telah dibendung dan ditutup sebagai salah satu upaya dalam kegiatan penambangan ini.


C.     Rusaknya Ekosistem di Laut, Tak ada Kayu Karet Kayu Meranti Pun Jadi, seperti itulah keadaan pelaku usaha pertambangan di Pulau Bangka, didarat sudah sulit menemukan lahan yang berpotensi memiliki kandungan timah akhirnya mereka berhijrah ke laut (ini hanya dilakukan oleh perusahaan bermodal besar/kira kira memiliki nilai investasi diatas 5 miliyar rupiah,  untuk masyarakat kecil cuma gigit jari hehe..), dulu eksploitasi tambang laut dilakukan oleh PT.Timah dan Perusahaan swasta di bawah kendali PT. Timah di tambang dengan Kapal Keruk dan Kapal Hisap yang relatif jumlahnya masih kecil dan masih tertata dengan batas-batas yang telah ditentukan, namun sekarang jika kita memandang kelaut lepas dari sekeliling pantai di pulau bangka akan membuat kita sakit mata dan sakit hati, sepanjang mata memandang yang kita lihat hanyalah sekumpulan besar kapal-kapal hisap dan kapal keruk, keberadaan kapal kapal ini semakin tidak jelas apakah resmi atau tidak, yang pasti masyarakat kecil di Pulau Bangka tidak ikut menikmati sekaligus menghancurkan isi laut dalam hal ini.
Jika kita sedang bepergian melalui jalur udara dilihat dari atas udara sebelum kita melihat kolong yang dihasilkan di daratan Bangka terlebih dahulu kita akan menemukan pemandangan yang jauh lebih miris di sekitar lautan pulau bangka, laut yang seyogyanya berwarna biru di Pulau Bangka ternyata berwarna kelabu. Bagi kalian yang hobinya mancing dulu lautan Bangka menjadi salah satu referensi untuk memancing, kini jangan harap cape dech....
Akibat dari aktivitas penambangan laut ini juga telah menghancurkan begitu banyak terumbu karang dan membunuh habitat disekitar, akibatnya ikan ikan kecil pergi menjauh dari lautan Bangka yang dipastikan ikan ikan besar pun tidak akan lagi mau mampir di peraira laut bangka. Dampak dari aktivitas pertambangan laut juga telah dirasakan langsung oleh para nelayan Bangka, karena pendapatan mereka otomatis menjadi sedikit dan lokasi penangkapan pun menjadi lebih jauh untuk mengejar ikan yang telah pergi menjauh (mincing ikan dah susah tapi kalo mo mancingin kapal hisap sih mudah tapi kailnya juga mesti gede) .


D.     Hilangnya sebagian sejarah Bangka, dulu pulau bangka juga terkenal sebagai tempat singgah atau perniagaan dari bangsa china dan melayu itu terbukti dari banyaknya penemuan ratusan kapal karam berisi barang dagangan seperti perhiasan, guci, mangkok, piring dan lain sbg yang diperkirakan berusia ratusan tahun, sekarang semenjak laut bangka di eksploitasi secara besar besaran  menemukan sisa kerangka kapal saja sudah sulit karena telah ikut menjadi korban keganasan kapal keruk dan kapal hisap.

E.      Dampak Psikologis untuk Anak Cucu masyarakat Bangka, Saat ini mungkin anak cucu kita tidak begitu mengerti akan apa yang sedang dialami oleh bumi tempat ia berpijak dan lahir, karena bagi masyarakat Bangka kedepannya akan sangat sulit untuk mengenalkan nama nama jenis pohon dan mahluk air di sekitar pantai kepada anak cucunya kelak dikarenakan pohon tersebut sudah tidak dapat lagi tumbuh di tanah yang berpasir. Dampak dari pertambangan timah darat juga mengakibatkan masyarakat harus membangun rumah dengan kayu tidak berkelas seperti kayu Cempedak, Kelapa, Karet dsb, yang secara kualitas sangat mudah rapuh dan tidak tahan lama, karena kayu kayu tersebut umumnya sudah habis dibabat oleh alat-alat berat (PC) agar dapat lebih cepat membongkar isi perut bumi
Sebuah Pulau seperti Bangka yang dikelilingi oleh lautan  sudah seharusnya memiliki potensi dalam usaha pnangkapan ikan/nelayan, tapi itu dulu kini jumlah nelayan berkurang karena faktor ikan yang sulit dicari, biaya operasional yang membengkak karena harus menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya, juga pemikiran nelayan merubah status pekerjaannya dari nelayan menjadi penambang timah laut. semua itu mengakibatkan naiknya semua harga jenis ikan dipasaran pulau Bangka, harga ikan pun sudah tak sebanding (jauh lebih tinggi) dengan nilai inflasi di propinsi Kep. Babel.


Cukup sampai disini dulu dah pusing seharian nulis artikel ini, saya mohon maaf jika artikel yang saya tulis terdapat kesalahan dan kata kata yang kurang tepat atau menyinggung suatu lembaga, perusahaan atau perorangan. artikel ini saya tulis untuk membantu membuka pikiran teman teman lain di pulau Bangka juga luar dan sebagai pencerahan terhadap apa yang terjadi sebenarnya di pulau Bangka. artikel ini dirilis berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya saja dengan beberapa sumber referensi lainnya.
di lain waktu artikel ini akan saya coba kembangkan lebih baik, saya ucapkan terimakasih jika saudara mau mampir dan memberikan comment sebagai  masukan untuk memperbaiki artikel selanjutnya, wsalam. By Noprianza.




Kamis, 07 Juni 2012

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kedatangan pemantau dan penyidik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemui nelayan Desa Rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, Rabu (6/6/2012) hari ini, dalam rangka mencari fakta dan informasi mengenai dampak operasi kapal isap terhadap kerusakan lingkungan dan terumbu karang, sehingga menyebabkan nelayan kesulitan mencari ikan untuk menafkahi keluarganya.

"Kita kemari dalam rangka mencari fakta dan informasi dari nelayan. Setelah itu ketemu PT Timah dan besok bertemu Pemprov Babel. Jadi belum ada kesimpulan apapun dalam kasus ini, apalagi kita baru diberitahu teman-teman Walhi soal kasus ini," kata Nurjaman, Pemantau dan Penyidik Komnas HAM saat ditemui bangkapos.com, di pantai Rebo Sungailiat, Rabu (6/6/2012).

Ditambahkannya, informasi yang didapatkan dari masyarakat sangat berharga untuk bahan pertemuan dan cross chek dengan PT Timah dan Pemprov Babel. Sehingga, lanjutnya, informasi lebih seimbang dan bisa dicari titik temu dan solusi dalam menyelesaikan persoalan ini.

"Permintaan masyarakat sangat sederhana, mereka hanya ingin penghidupan kembali seperti semula," ujar Murjaman.

Lebih lanjut Nurjaman mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan apakah ada pelanggaran HAM atau tidak dalam kasus ini, karena informasi yang didapatkan masih sepihak.

Sebelumnya diberitakan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia  didampingi Walhi Provinsi Bangka Belitung menemui perwakilan nelayan Desa Rebo Kabupaten Bangka guna menyerap aspirasi nelayan soal penolakan terhadap operasional kapal isap di perairan laut Rebo, Rabu (6/6/2012). Pertemuan itu berlangsung di Pantai Rebo Sungailiat.

Wendi, wakil nelayan Rebo yang ditemui bangkapos.com mengatakan para nelayan Desa Rebo saat ini kesulitan mendapatkan ikan karena daerah tangkapan mereka sudah diganggu oleh operasional kapal isap.

"Sudah beberapa bulan ini kita susah dapat ikan. Jangankan ikan, kutu aik saja sudah tak muncul lagi," ujar Wendi.

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Direktur Walhi Bangka Belitung (Babel) Ratno Budi mengatakan, berdasarkan hasil sejumlah riset ilmiah yang dilakukan institusi terhadap konsentrasi aktivitas bawah laut, termasuk terumbu karang, pemulihannya butuh waktu lama.

"Kalau kondisi terumbu karang di pesisir Sungailiat sudah hancur, maka bisa dipastikan harapan untuk dunia pariwisata sudah sangat mengkhawatirkan," ujar Ratno kepada bangkapos.com di sela- sela peringatan Hari Keanekaragaman Hayati di Parai Beach Resort & Spa, Selasa (22/5/2012).

Ia menjelaskan, kalau ada wisatawan yang mengeluh karena tidak diving di daerah ini karena terganggu penambangan kapal isap, maka tentu menjadi sebuah masukan yang bagus bagi pemerintah.

"Selama ini sudah banyak pihak yang berbicara bahwa tambang laut tidak merusak ekosistem laut, tapi sudah terbukti kalau terumbu karangnya sudah hancur. Dan, mereka sudah tahu kalau aktivitas kapal isap yang sedang melakukan pengerukan timah," ungkap Ratno.

Oleh sebab itu, kata Ratno, sudah saatnya pemerintah memikirkan atau minimal mengurangi izin-izin yang dikeluarkan untuk aktivitas industri termasuk kapal isap di perairan Sungailiat.

"Kalau tidak bisa menghentikan hl itu, mereka minimal mesti mengkaji ulang dahulu terhadap dampak yang ditimbulkan termasuk pencemarannya. Namun tak ada orang yang memikirkan tentang kelangsungan kelanjutan kondisi laut di Sungailiat dan Bangka ini seperti apa nantinya," ungkap Ratno. 

Rabu, 06 Juni 2012

Sejarah singkat tentang TV Kabel

TV KABEL
https://encrypted-tbn0.google.com/images?q=tbn:ANd9GcQln-Vbl_0q4JbNiLhtLSMApqp113P79gE-icMBzSLSRx2W-th4

Dunia broadcasting televisi yang awalnya berkembang pada tahun 1930-an mengalami transformasi pada sekitar tahun 1950 bersamaan dengan munculnya sistem televisi kabel (TV kabel). Perkembangannya sendiri berjalan seiring dengan perkembangan broadcasting televisi.

Bartlett (1990:1) memberikan pengertian bahwa sistem TV kabel ialah pengiriman sinyal televisi pada perangkat televisi rumah tangga melalui kabel. Sistem ini juga dikenal dengan nama Community Antenna Television (CATV) dimana kabel menjadi sarana penting untuk mentransmisikan sinyal televisi dari suatu penyelenggara sistem ke sejumlah pelanggannya di wilayah tertentu.

Keunggulan televisi sebagai perangkat komunikasi modern yang bersifat audible (bisa didengar) dan visible (bisa dilihat) - menggeser broadcasting radio pada saat itu – semakin bertambah. Ia mampu merambah bumi seiring dengan penemuan teknologi transmisi siaran seperti kabel koaksial, serat optik dan satelit. Televisi kini menjadi media yang bersifat global.

Saat ini, sistem TV kabel telah dioperasikan di banyak negara. Amerika Serikat bisa disebut sebagai pionirnya walaupun televisi baru datang ke sana pada tahun 1939, lebih lambat daripada Jerman (1935) dan Inggris (1936). Total jumlah pelanggan TV kabel di Amerika saja sudah mencapai 70 juta rumah tangga. Suatu angka yang sangat fantastis. Sementara lebih dari setengahnya memiliki akses ke lebih dari 50 stasiun televisi.

Menyelenggarakan layanan TV kabel terbilang efisien karena tidak memerlukan organisasi yang besar serta biaya operasionalnya yang relatif rendah. Content-nya juga beragam dengan segmentasi yang membentang di berbagai kalangan usia. Pelanggan TV kabel dapat menyaksikan beragam program baik informasi berita, olahraga, budaya, informasi bisnis, film, musik hingga soal rumah tangga.


2. SEJARAH DAN FASE PERKEMBANGAN TV KABEL
2.1. Sejarah Perkembangan TV Kabel


Sistem TV kabel pertama kali berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1940-an, tepatnya di Pennsylvania. Saat itu sinyal siaran televisi ditransmisikan melalui pemancar yang diterima oleh antena televisi. Namun, transmisi sinyal ke pesawat penerima tidak dapat diterima dengan baik terutama di wilayah pegunungan, lembah dan wilayah yang lokasinya lebih jauh dari stasiun pemancar.

Lalu, dibangunlah antena besar di suatu puncak gunung atau dataran tinggi. Kabel koaksial digunakan untuk menghubungkan antena dengan pesawat televisi. Hasilnya, siaran televisi dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Hal yang sama juga dimulai di bagian lain di Arkansas dan Oregon.

Pada tahun 1950-an di Amerika saja sudah tersambung 14 ribu pelanggan TV kabel. Operator TV kabel juga tidak hanya mampu mentransmisikan sinyal TV lokal saja, namun juga mampu memberikan layanan program dari berbagai stasiun TV lain di luar area operasinya. Transmisi siaran ke rumah-rumah penduduk saat itu masih menggunakan kabel koaksial.

Tahun 1962, sudah tercatat 800 sistem TV kabel yang melayani 850.000 pelanggan di Amerika. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saat itu ada tiga operator TV kabel terbesar yaitu Westinghouse, TelePrompTer dan Cox. Digitalisasi jaringan dimulai pada tahun 1970-an. Pada tahun 1972, sebuah jaringan stasiun pay-TV nasional pertama, Home Box Office (HBO) diluncurkan. Penggunaan satelit untuk transmisi sinyal ke seluruh wilayah di Amerika Serikat mulai menjadi bagian penting dari sistem TV kabel.

Sistem TV kabel juga mulai dikembangkan di berbagai negara. Di Belanda misalnya, sudah ada sekitar tahun 1969. Saat itu beberapa wilayah lokal membangun sistem TV kabel untuk meningkatkan kualitas penerimaan sinyal televisi. Sistem TV kabel juga berkembang di negara tetangganya, Belgia. Pengelolaan TV kabel dijalankan oleh pemerintah lokal setempat.

Di Inggris, meski berjalan lambat namun sistem TV kabel juga berkembang seiring dengan perkembangan dunia broadcasting televisi di negara itu. Pada tahun 1999, tercatat 20 persen dari jumlah rumah tangga di Inggris telah memiliki akses ke sistem TV kabel.

Sementara itu di Jepang, rencana pengembangan sistem TV kabel difokuskan pada area permukiman di perkotaan. Namun pada tahun 1999, penetrasi sistem TV kabel yang mencapai 20 persen justru lebih banyak di area permukiman di pedesaan dan pegunungan.

2.2. Fase Perkembangan Sistem TV Kabel
Timothy Hollins (1984:18-19) menjelaskan ada empat fase perkembangan sistem TV kabel. Yang pertama ialah teknologi TV kabel digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang mendasar, yaitu:
- untuk menerima sinyal siaran di tempat yang tidak terjangkau sinyal pemancar
- untuk meningkatkan kemampuan menerima siaran di tempat yang hampir tidak terjangkau sinyal, dan
- untuk mengurangi jumlah antena yang dipasang di atas rumah penduduk terutama yang bermukim di perkotaan dan area permukiman



Fase kedua ialah untuk mentransmisikan sinyal siaran televisi dari tempat lain yang jauh disamping transmisi siaran TV lokal.

Pada fase ketiga, mulai adanya perhatian pada kapasitas saluran yang dapat ditransmisikan oleh kabel, sehingga pelanggan TV kabel dapat menikmati berbagai tayangan yang bervariasi.

Sedangkan pada fase keempat merupakan pengembangan sistem dimana transmisi sinyal televisi hanya merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh operator. Pada fase ini operator TV kabel memberikan layanan lain misalnya homebanking, homeshopping, data transfer, electronic mail hingga videophone.

Teknologi transmisi berada di belakang setiap fase, terutama teknologi kabel. Dulu waktu pertama kali muncul, kabel koaksial digunakan untuk “membawa” sinyal dari antena ke pesawat televisi. Lalu digunakan kabel serat optik. Belakangan kombinasi antara kabel koaksial dan serat optik atau disebut Hybrid Fibre–Coaxial (HFC) juga sudah mulai digunakan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan kapasitas channel yang lebih banyak dan adanya transmisi dua arah sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data lewat jaringan TV kabel.


3. SISTEM KERJA DAN APLIKASI JARINGAN TV KABEL
3.1. Sistem Kerja TV Kabel


Sistem TV kabel dalam Hollins (1984:12) terbagi menjadi dua yaitu sistem Master Antenna Television (MATV) dan Community Antenna Television (CATV). MATV digunakan untuk melayani transmisi sinyal siaran televisi ke suatu area tertentu misalnya apartemen atau kompleks perumahan. Sedangkan CATV digunakan untuk melayani transmisi ke area yang lebih besar misalnya suatu kota dimana terdapat sejumlah besar rumah tangga.

Ada lima komponen utama dalam suatu konsep sistem jaringan TV kabel yaitu headend, trunk cable, distribution cable (yaitu kabel yang membentang di suatu area permukiman), drop cable (yaitu kabel yang dipasang pada suatu unit rumah tangga) dan perangkat terminal elektronik seperti VCR, modem dan lain-lain.



Pusat operasi transmisi disebut headend. Headend ini menerima sinyal dari stasiun televisi lokal maupun satelit, kemudian diproses dan ditransmisikan kepada pelanggan melalui kabel.

Dengan teknologi baru, cable modem atau modem kabel menjadi salah satu perangkat penting. Modem kabel ialah perangkat yang menghubungkan jaringan TV kabel sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data.

Instalasi jaringan TV kabel pada suatu unit rumah tangga digambarkan sebagai berikut:



Ada dua struktur jaringan TV kabel yang banyak diterapkan. Yang pertama tree and branch system. Pada sistem ini, sinyal ditransmisikan sepanjang trunk cable melalui cabang-cabang dan sub-sub cabang. Setiap pelanggan menggunakan converter / decoder yang berfungsi untuk memilih frekuensi. Perangkat ini dipasang diantara jaringan kabel dan perangkat televisi.



Sistem ini kurang ekonomis karena harus tersedia perangkat decoder yang mahal. Sistem ini juga memiliki keterbatasan potensi seandainya ada fitur-fitur tambahan di masa mendatang.

Sementara itu, pada struktur jaringan yang kedua - yaitu switched-star system – sinyal didistribusikan melalui trunk cable dari headend ke sejumlah local center (hub). Di sini terdapat router yang dapat memperlancar lalu lintas transmisi jika suatu waktu sistem terganggu. Transmisi dari headend ke local center menggunakan kabel serat optik. Kemudian, transmisi diteruskan ke district center yang mengubungkan sekira 1.000 pelanggan. Transmisi menggunakan kabel koaksial. Dari sini transmisi diperluas menjadi beberapa bagian yang menghubungkan antara 150 hingga 300 pelanggan. Amplifier atau booster digunakan untuk memperluas sinyal.



Sistem ini memiliki beberapa keunggulan antara lain performance yang lebih baik dan pemeliharaan yang lebih efisien. Sistem ini juga bersifat adaptable dan fleksibel jika suatu waktu dilakukan upgrade dan penambahan fitur-fitur lain. Pada sistem tree and branch, setiap rumah harus terdapat amplifier sedangkan pada sistem switched-star terjadi pengurangan sejumlah amplifier. Teknologi kabel serat optik juga lebih mudah diterapkan pada sistem ini.

Karena sistem TV kabel menggunakan kabel sebagai sarana transmisi, maka bandwith menjadi hal yang penting. Bandwith adalah lebar frekuensi band pada suatu transmisi sinyal. Semakin besar bandwith suatu kabel maka semakin banyak informasi yang dapat ditransmisikan. Jadi, semakin kompleks informasi akan semakin besar kebutuhan bandwith pada kabel untuk mentransmisikannya.

Umumnya televisi membutuhkan kabel yang dapat mentransmisikan data minimum 100 Mbps (mega byte per second). Di bawah ini adalah kebutuhan bandwith dari masing-masing bentuk layanan.



3.2. Teknologi Hybrid Fibre-Coax (HFC) dan Modem Kabel
Kabel HFC merupakan teknologi baru dalam sistem jaringan TV kabel yang merupakan kombinasi antara kabel koaksial dan kabel serat optik. Kabel ini tersusun atas simpul-simpul optik yang mampu menghubungkan 1.000 pelanggan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan transmisi sinyal channel televisi yang lebih banyak serta kemampuan transmisi dua arah dimana pelanggan dapat memanfaatkan layanan internet dan interactive-TV (i-TV).



Untuk itu, sebuah instrumen baru yaitu modem kabel diperlukan untuk mengakses content layanan multimedia dalam suatu jaringan TV kabel dengan kecepatan tinggi. Modem merupakan singkatan dari modulator-demodulator. Modulator berfungsi menerjemahkan data dari digital ke analog sehingga bisa ditransmisikan, sedangkan demodulator sebaliknya menerjemahkan data dari analog ke digital. Kecepatan akses modem kabel berkisar antara 3 hingga 56 Mbps.

Di bawah ini adalah tabel perbandingan kecepatan akses modem kabel dengan modem jenis lainnya untuk mengakses sebuah image sebesar 1 Mb.



Transmisi melalui modem kabel adalah yang paling efisien. Jika dibandingkan dengan ISDN (Integrated Service Digital Network) 64 Kbps untuk mengakses image sebesar 1 Mb saja kecepatan aksesnya bisa 100 kali lebih cepat.
Sedangkan jika masing-masing modem mengakses suatu klip audio atau video sebesar 5 Mb dengan durasi sekira 1,5 menit, maka kecepatan transmisinya adalah sebagai berikut:



3.3.Aplikasi sistem TV kabel
Sistem TV kabel terutama dengan menggunakan teknologi kabel HFC memungkinkan tersedianya berbagai bentuk layanan. Telah disinggung di bagian awal mengenai fase perkembangan sistem TV kabel, bahwa saat ini merupakan fase keempat perkembangan dimana transmisi sinyal siaran televisi hanya merupakan salah satu layanan dari sejumlah layanan yang diberikan kepada pelanggan.

Selama 24 jam nonstop pelanggan selain disuguhi tayangan dari puluhan stasiun televisi baik lokal dan internasional, juga dapat menikmati fasilitas / layanan lainnya seperti akses internet melalui komputer dengan kecepatan tinggi. Melalui internet – cukup dengan mendaftarkan diri ke salah satu ISP (Internet Service Provider) - pelanggan dapat menjelajah world wide web, chatting dan mengirim e-mail. Melalui fasilitas i-TV, pelanggan dapat melakukan chatting antar pelanggan TV kabel, mengirim SMS ke telepon seluler dan bermain games interaktif.

Untuk kepentingan bisnis, pelanggan dapat mengirimkan data-data dalam kapasitas yang besar kepada kliennya. Melalui sistem TV kabel, seseorang juga dapat bekerja di rumah. Hasil pekerjaan seluruhnya dapat ditransfer dari rumah ke kantor atau tempat dimana ia bekerja.

Berkaitan dengan pendidikan, seorang siswa dapat mengakses sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang ia butuhkan secara lebih efisien. Aplikasi TV kabel tidak hanya diterapkan di rumah, namun juga di sekolah. Para guru dapat memperoleh sumber yang lebih bervariasi. Layanan informasi umum yang disediakan content provider juga bermanfaat bagi pelanggan. Pelanggan dapat mengakses informasi mengenai ramalan cuaca, informasi tagihan-tagihan, informasi perbankan, daftar alamat atau direktori hingga informasi produk-produk baru dari suatu retailer.

Banyak keuntungan yang diperoleh melalui sistem TV kabel. Untuk melanggannya juga relatif terjangkau apalagi jika dikaitkan dengan sejumlah fitur dan layanan yang yang diberikan.

Namun begitu, ada pula kelemahan aplikasi sistem TV kabel. Diantaranya wilayah ketersediaan yang terbatas karena tidak semua wilayah bisa dijangkau oleh sistem ini. Bagi operator penyelenggara sistem, investasi untuk pembangunan infrastruktur kabel masih sangat mahal.

Gatot Tri R.
dari berbagai sumber