BANGKAPOS.COM, BANGKA
-- Kedatangan pemantau dan penyidik Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) menemui nelayan Desa
Rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, Rabu (6/6/2012) hari ini,
dalam rangka mencari fakta dan informasi mengenai dampak operasi
kapal isap terhadap kerusakan lingkungan dan terumbu karang, sehingga
menyebabkan nelayan kesulitan mencari ikan untuk menafkahi
keluarganya.
"Kita kemari dalam rangka mencari fakta dan informasi dari nelayan.
Setelah itu ketemu PT Timah dan besok bertemu Pemprov Babel. Jadi belum
ada kesimpulan apapun dalam kasus ini, apalagi kita baru diberitahu
teman-teman Walhi soal kasus ini," kata Nurjaman, Pemantau dan Penyidik
Komnas HAM saat ditemui bangkapos.com, di pantai Rebo
Sungailiat, Rabu (6/6/2012).
Ditambahkannya, informasi yang didapatkan dari masyarakat sangat
berharga untuk bahan pertemuan dan cross chek dengan PT Timah dan
Pemprov Babel. Sehingga, lanjutnya, informasi lebih seimbang dan bisa dicari titik
temu dan solusi dalam menyelesaikan persoalan ini.
"Permintaan masyarakat sangat sederhana, mereka hanya ingin penghidupan kembali seperti semula," ujar Murjaman.
Lebih lanjut Nurjaman mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan apakah ada
pelanggaran HAM atau tidak dalam kasus ini, karena informasi yang
didapatkan masih sepihak.
Sebelumnya diberitakan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia
didampingi Walhi Provinsi Bangka Belitung menemui perwakilan nelayan
Desa
Rebo Kabupaten Bangka guna menyerap aspirasi nelayan soal penolakan
terhadap operasional
kapal isap di perairan laut Rebo, Rabu (6/6/2012). Pertemuan itu
berlangsung di Pantai Rebo
Sungailiat.
Wendi, wakil nelayan Rebo yang ditemui bangkapos.com mengatakan para
nelayan Desa Rebo saat ini kesulitan mendapatkan
ikan karena daerah tangkapan mereka sudah diganggu oleh operasional kapal
isap.
"Sudah beberapa bulan ini kita susah dapat ikan. Jangankan ikan, kutu aik saja sudah tak muncul lagi," ujar Wendi.
BANGKAPOS.COM, BANGKA --
Direktur Walhi Bangka Belitung (Babel) Ratno Budi mengatakan, berdasarkan hasil sejumlah riset ilmiah yang dilakukan institusi terhadap konsentrasi
aktivitas bawah laut, termasuk terumbu karang, pemulihannya
butuh waktu lama.
"Kalau kondisi terumbu karang di pesisir Sungailiat sudah hancur, maka
bisa dipastikan harapan untuk dunia pariwisata sudah sangat
mengkhawatirkan," ujar Ratno kepada bangkapos.com di sela- sela peringatan Hari Keanekaragaman Hayati di Parai Beach Resort & Spa, Selasa (22/5/2012).
Ia menjelaskan, kalau ada wisatawan yang mengeluh karena tidak diving di
daerah ini karena terganggu penambangan kapal isap, maka tentu menjadi
sebuah masukan yang bagus
bagi pemerintah.
"Selama ini sudah banyak pihak yang berbicara bahwa tambang laut tidak
merusak ekosistem laut, tapi sudah terbukti kalau terumbu karangnya
sudah hancur. Dan, mereka sudah tahu kalau aktivitas kapal isap yang
sedang melakukan pengerukan timah," ungkap Ratno.
Oleh sebab itu, kata Ratno, sudah saatnya pemerintah
memikirkan atau minimal mengurangi izin-izin yang dikeluarkan untuk
aktivitas industri termasuk kapal isap di perairan Sungailiat.
"Kalau tidak bisa menghentikan hl itu, mereka minimal mesti mengkaji
ulang dahulu terhadap dampak yang ditimbulkan termasuk pencemarannya.
Namun tak ada orang yang memikirkan tentang kelangsungan kelanjutan
kondisi laut di Sungailiat dan Bangka ini seperti apa nantinya," ungkap
Ratno.
Kamis, 07 Juni 2012
Rabu, 06 Juni 2012
Sejarah singkat tentang TV Kabel
TV KABEL
Dunia broadcasting televisi
yang awalnya berkembang pada tahun 1930-an mengalami transformasi pada
sekitar tahun 1950 bersamaan dengan munculnya sistem televisi kabel (TV
kabel). Perkembangannya sendiri berjalan seiring dengan perkembangan broadcasting televisi.
Bartlett (1990:1) memberikan pengertian bahwa sistem TV kabel ialah pengiriman sinyal televisi pada perangkat televisi rumah tangga melalui kabel. Sistem ini juga dikenal dengan nama Community Antenna Television (CATV) dimana kabel menjadi sarana penting untuk mentransmisikan sinyal televisi dari suatu penyelenggara sistem ke sejumlah pelanggannya di wilayah tertentu.
Keunggulan televisi sebagai perangkat komunikasi modern yang bersifat audible (bisa didengar) dan visible (bisa dilihat) - menggeser broadcasting radio pada saat itu – semakin bertambah. Ia mampu merambah bumi seiring dengan penemuan teknologi transmisi siaran seperti kabel koaksial, serat optik dan satelit. Televisi kini menjadi media yang bersifat global.
Saat ini, sistem TV kabel telah dioperasikan di banyak negara. Amerika Serikat bisa disebut sebagai pionirnya walaupun televisi baru datang ke sana pada tahun 1939, lebih lambat daripada Jerman (1935) dan Inggris (1936). Total jumlah pelanggan TV kabel di Amerika saja sudah mencapai 70 juta rumah tangga. Suatu angka yang sangat fantastis. Sementara lebih dari setengahnya memiliki akses ke lebih dari 50 stasiun televisi.
Menyelenggarakan layanan TV kabel terbilang efisien karena tidak memerlukan organisasi yang besar serta biaya operasionalnya yang relatif rendah. Content-nya juga beragam dengan segmentasi yang membentang di berbagai kalangan usia. Pelanggan TV kabel dapat menyaksikan beragam program baik informasi berita, olahraga, budaya, informasi bisnis, film, musik hingga soal rumah tangga.
2. SEJARAH DAN FASE PERKEMBANGAN TV KABEL
2.1. Sejarah Perkembangan TV Kabel
Sistem TV kabel pertama kali berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1940-an, tepatnya di Pennsylvania. Saat itu sinyal siaran televisi ditransmisikan melalui pemancar yang diterima oleh antena televisi. Namun, transmisi sinyal ke pesawat penerima tidak dapat diterima dengan baik terutama di wilayah pegunungan, lembah dan wilayah yang lokasinya lebih jauh dari stasiun pemancar.
Lalu, dibangunlah antena besar di suatu puncak gunung atau dataran tinggi. Kabel koaksial digunakan untuk menghubungkan antena dengan pesawat televisi. Hasilnya, siaran televisi dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Hal yang sama juga dimulai di bagian lain di Arkansas dan Oregon.
Pada tahun 1950-an di Amerika saja sudah tersambung 14 ribu pelanggan TV kabel. Operator TV kabel juga tidak hanya mampu mentransmisikan sinyal TV lokal saja, namun juga mampu memberikan layanan program dari berbagai stasiun TV lain di luar area operasinya. Transmisi siaran ke rumah-rumah penduduk saat itu masih menggunakan kabel koaksial.
Tahun 1962, sudah tercatat 800 sistem TV kabel yang melayani 850.000 pelanggan di Amerika. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saat itu ada tiga operator TV kabel terbesar yaitu Westinghouse, TelePrompTer dan Cox. Digitalisasi jaringan dimulai pada tahun 1970-an. Pada tahun 1972, sebuah jaringan stasiun pay-TV nasional pertama, Home Box Office (HBO) diluncurkan. Penggunaan satelit untuk transmisi sinyal ke seluruh wilayah di Amerika Serikat mulai menjadi bagian penting dari sistem TV kabel.
Sistem TV kabel juga mulai dikembangkan di berbagai negara. Di Belanda misalnya, sudah ada sekitar tahun 1969. Saat itu beberapa wilayah lokal membangun sistem TV kabel untuk meningkatkan kualitas penerimaan sinyal televisi. Sistem TV kabel juga berkembang di negara tetangganya, Belgia. Pengelolaan TV kabel dijalankan oleh pemerintah lokal setempat.
Di Inggris, meski berjalan lambat namun sistem TV kabel juga berkembang seiring dengan perkembangan dunia broadcasting televisi di negara itu. Pada tahun 1999, tercatat 20 persen dari jumlah rumah tangga di Inggris telah memiliki akses ke sistem TV kabel.
Sementara itu di Jepang, rencana pengembangan sistem TV kabel difokuskan pada area permukiman di perkotaan. Namun pada tahun 1999, penetrasi sistem TV kabel yang mencapai 20 persen justru lebih banyak di area permukiman di pedesaan dan pegunungan.
2.2. Fase Perkembangan Sistem TV Kabel
Timothy Hollins (1984:18-19) menjelaskan ada empat fase perkembangan sistem TV kabel. Yang pertama ialah teknologi TV kabel digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang mendasar, yaitu:
- untuk menerima sinyal siaran di tempat yang tidak terjangkau sinyal pemancar
- untuk meningkatkan kemampuan menerima siaran di tempat yang hampir tidak terjangkau sinyal, dan
- untuk mengurangi jumlah antena yang dipasang di atas rumah penduduk terutama yang bermukim di perkotaan dan area permukiman

Fase kedua ialah untuk mentransmisikan sinyal siaran televisi dari tempat lain yang jauh disamping transmisi siaran TV lokal.
Pada fase ketiga, mulai adanya perhatian pada kapasitas saluran yang dapat ditransmisikan oleh kabel, sehingga pelanggan TV kabel dapat menikmati berbagai tayangan yang bervariasi.
Sedangkan pada fase keempat merupakan pengembangan sistem dimana transmisi sinyal televisi hanya merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh operator. Pada fase ini operator TV kabel memberikan layanan lain misalnya homebanking, homeshopping, data transfer, electronic mail hingga videophone.
Teknologi transmisi berada di belakang setiap fase, terutama teknologi kabel. Dulu waktu pertama kali muncul, kabel koaksial digunakan untuk “membawa” sinyal dari antena ke pesawat televisi. Lalu digunakan kabel serat optik. Belakangan kombinasi antara kabel koaksial dan serat optik atau disebut Hybrid Fibre–Coaxial (HFC) juga sudah mulai digunakan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan kapasitas channel yang lebih banyak dan adanya transmisi dua arah sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data lewat jaringan TV kabel.
3. SISTEM KERJA DAN APLIKASI JARINGAN TV KABEL
3.1. Sistem Kerja TV Kabel
Sistem TV kabel dalam Hollins (1984:12) terbagi menjadi dua yaitu sistem Master Antenna Television (MATV) dan Community Antenna Television (CATV). MATV digunakan untuk melayani transmisi sinyal siaran televisi ke suatu area tertentu misalnya apartemen atau kompleks perumahan. Sedangkan CATV digunakan untuk melayani transmisi ke area yang lebih besar misalnya suatu kota dimana terdapat sejumlah besar rumah tangga.
Ada lima komponen utama dalam suatu konsep sistem jaringan TV kabel yaitu headend, trunk cable, distribution cable (yaitu kabel yang membentang di suatu area permukiman), drop cable (yaitu kabel yang dipasang pada suatu unit rumah tangga) dan perangkat terminal elektronik seperti VCR, modem dan lain-lain.

Pusat operasi transmisi disebut headend. Headend ini menerima sinyal dari stasiun televisi lokal maupun satelit, kemudian diproses dan ditransmisikan kepada pelanggan melalui kabel.
Dengan teknologi baru, cable modem atau modem kabel menjadi salah satu perangkat penting. Modem kabel ialah perangkat yang menghubungkan jaringan TV kabel sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data.
Instalasi jaringan TV kabel pada suatu unit rumah tangga digambarkan sebagai berikut:

Ada dua struktur jaringan TV kabel yang banyak diterapkan. Yang pertama tree and branch system. Pada sistem ini, sinyal ditransmisikan sepanjang trunk cable melalui cabang-cabang dan sub-sub cabang. Setiap pelanggan menggunakan converter / decoder yang berfungsi untuk memilih frekuensi. Perangkat ini dipasang diantara jaringan kabel dan perangkat televisi.

Sistem ini kurang ekonomis karena harus tersedia perangkat decoder yang mahal. Sistem ini juga memiliki keterbatasan potensi seandainya ada fitur-fitur tambahan di masa mendatang.
Sementara itu, pada struktur jaringan yang kedua - yaitu switched-star system – sinyal didistribusikan melalui trunk cable dari headend ke sejumlah local center (hub). Di sini terdapat router yang dapat memperlancar lalu lintas transmisi jika suatu waktu sistem terganggu. Transmisi dari headend ke local center menggunakan kabel serat optik. Kemudian, transmisi diteruskan ke district center yang mengubungkan sekira 1.000 pelanggan. Transmisi menggunakan kabel koaksial. Dari sini transmisi diperluas menjadi beberapa bagian yang menghubungkan antara 150 hingga 300 pelanggan. Amplifier atau booster digunakan untuk memperluas sinyal.

Sistem ini memiliki beberapa keunggulan antara lain performance yang lebih baik dan pemeliharaan yang lebih efisien. Sistem ini juga bersifat adaptable dan fleksibel jika suatu waktu dilakukan upgrade dan penambahan fitur-fitur lain. Pada sistem tree and branch, setiap rumah harus terdapat amplifier sedangkan pada sistem switched-star terjadi pengurangan sejumlah amplifier. Teknologi kabel serat optik juga lebih mudah diterapkan pada sistem ini.
Karena sistem TV kabel menggunakan kabel sebagai sarana transmisi, maka bandwith menjadi hal yang penting. Bandwith adalah lebar frekuensi band pada suatu transmisi sinyal. Semakin besar bandwith suatu kabel maka semakin banyak informasi yang dapat ditransmisikan. Jadi, semakin kompleks informasi akan semakin besar kebutuhan bandwith pada kabel untuk mentransmisikannya.
Umumnya televisi membutuhkan kabel yang dapat mentransmisikan data minimum 100 Mbps (mega byte per second). Di bawah ini adalah kebutuhan bandwith dari masing-masing bentuk layanan.

3.2. Teknologi Hybrid Fibre-Coax (HFC) dan Modem Kabel
Kabel HFC merupakan teknologi baru dalam sistem jaringan TV kabel yang merupakan kombinasi antara kabel koaksial dan kabel serat optik. Kabel ini tersusun atas simpul-simpul optik yang mampu menghubungkan 1.000 pelanggan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan transmisi sinyal channel televisi yang lebih banyak serta kemampuan transmisi dua arah dimana pelanggan dapat memanfaatkan layanan internet dan interactive-TV (i-TV).

Untuk itu, sebuah instrumen baru yaitu modem kabel diperlukan untuk mengakses content layanan multimedia dalam suatu jaringan TV kabel dengan kecepatan tinggi. Modem merupakan singkatan dari modulator-demodulator. Modulator berfungsi menerjemahkan data dari digital ke analog sehingga bisa ditransmisikan, sedangkan demodulator sebaliknya menerjemahkan data dari analog ke digital. Kecepatan akses modem kabel berkisar antara 3 hingga 56 Mbps.
Di bawah ini adalah tabel perbandingan kecepatan akses modem kabel dengan modem jenis lainnya untuk mengakses sebuah image sebesar 1 Mb.

Transmisi melalui modem kabel adalah yang paling efisien. Jika dibandingkan dengan ISDN (Integrated Service Digital Network) 64 Kbps untuk mengakses image sebesar 1 Mb saja kecepatan aksesnya bisa 100 kali lebih cepat.
Sedangkan jika masing-masing modem mengakses suatu klip audio atau video sebesar 5 Mb dengan durasi sekira 1,5 menit, maka kecepatan transmisinya adalah sebagai berikut:

3.3.Aplikasi sistem TV kabel
Sistem TV kabel terutama dengan menggunakan teknologi kabel HFC memungkinkan tersedianya berbagai bentuk layanan. Telah disinggung di bagian awal mengenai fase perkembangan sistem TV kabel, bahwa saat ini merupakan fase keempat perkembangan dimana transmisi sinyal siaran televisi hanya merupakan salah satu layanan dari sejumlah layanan yang diberikan kepada pelanggan.
Selama 24 jam nonstop pelanggan selain disuguhi tayangan dari puluhan stasiun televisi baik lokal dan internasional, juga dapat menikmati fasilitas / layanan lainnya seperti akses internet melalui komputer dengan kecepatan tinggi. Melalui internet – cukup dengan mendaftarkan diri ke salah satu ISP (Internet Service Provider) - pelanggan dapat menjelajah world wide web, chatting dan mengirim e-mail. Melalui fasilitas i-TV, pelanggan dapat melakukan chatting antar pelanggan TV kabel, mengirim SMS ke telepon seluler dan bermain games interaktif.
Untuk kepentingan bisnis, pelanggan dapat mengirimkan data-data dalam kapasitas yang besar kepada kliennya. Melalui sistem TV kabel, seseorang juga dapat bekerja di rumah. Hasil pekerjaan seluruhnya dapat ditransfer dari rumah ke kantor atau tempat dimana ia bekerja.
Berkaitan dengan pendidikan, seorang siswa dapat mengakses sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang ia butuhkan secara lebih efisien. Aplikasi TV kabel tidak hanya diterapkan di rumah, namun juga di sekolah. Para guru dapat memperoleh sumber yang lebih bervariasi. Layanan informasi umum yang disediakan content provider juga bermanfaat bagi pelanggan. Pelanggan dapat mengakses informasi mengenai ramalan cuaca, informasi tagihan-tagihan, informasi perbankan, daftar alamat atau direktori hingga informasi produk-produk baru dari suatu retailer.
Banyak keuntungan yang diperoleh melalui sistem TV kabel. Untuk melanggannya juga relatif terjangkau apalagi jika dikaitkan dengan sejumlah fitur dan layanan yang yang diberikan.
Namun begitu, ada pula kelemahan aplikasi sistem TV kabel. Diantaranya wilayah ketersediaan yang terbatas karena tidak semua wilayah bisa dijangkau oleh sistem ini. Bagi operator penyelenggara sistem, investasi untuk pembangunan infrastruktur kabel masih sangat mahal.
Gatot Tri R.
dari berbagai sumber
Bartlett (1990:1) memberikan pengertian bahwa sistem TV kabel ialah pengiriman sinyal televisi pada perangkat televisi rumah tangga melalui kabel. Sistem ini juga dikenal dengan nama Community Antenna Television (CATV) dimana kabel menjadi sarana penting untuk mentransmisikan sinyal televisi dari suatu penyelenggara sistem ke sejumlah pelanggannya di wilayah tertentu.
Keunggulan televisi sebagai perangkat komunikasi modern yang bersifat audible (bisa didengar) dan visible (bisa dilihat) - menggeser broadcasting radio pada saat itu – semakin bertambah. Ia mampu merambah bumi seiring dengan penemuan teknologi transmisi siaran seperti kabel koaksial, serat optik dan satelit. Televisi kini menjadi media yang bersifat global.
Saat ini, sistem TV kabel telah dioperasikan di banyak negara. Amerika Serikat bisa disebut sebagai pionirnya walaupun televisi baru datang ke sana pada tahun 1939, lebih lambat daripada Jerman (1935) dan Inggris (1936). Total jumlah pelanggan TV kabel di Amerika saja sudah mencapai 70 juta rumah tangga. Suatu angka yang sangat fantastis. Sementara lebih dari setengahnya memiliki akses ke lebih dari 50 stasiun televisi.
Menyelenggarakan layanan TV kabel terbilang efisien karena tidak memerlukan organisasi yang besar serta biaya operasionalnya yang relatif rendah. Content-nya juga beragam dengan segmentasi yang membentang di berbagai kalangan usia. Pelanggan TV kabel dapat menyaksikan beragam program baik informasi berita, olahraga, budaya, informasi bisnis, film, musik hingga soal rumah tangga.
2. SEJARAH DAN FASE PERKEMBANGAN TV KABEL
2.1. Sejarah Perkembangan TV Kabel
Sistem TV kabel pertama kali berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1940-an, tepatnya di Pennsylvania. Saat itu sinyal siaran televisi ditransmisikan melalui pemancar yang diterima oleh antena televisi. Namun, transmisi sinyal ke pesawat penerima tidak dapat diterima dengan baik terutama di wilayah pegunungan, lembah dan wilayah yang lokasinya lebih jauh dari stasiun pemancar.
Lalu, dibangunlah antena besar di suatu puncak gunung atau dataran tinggi. Kabel koaksial digunakan untuk menghubungkan antena dengan pesawat televisi. Hasilnya, siaran televisi dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Hal yang sama juga dimulai di bagian lain di Arkansas dan Oregon.
Pada tahun 1950-an di Amerika saja sudah tersambung 14 ribu pelanggan TV kabel. Operator TV kabel juga tidak hanya mampu mentransmisikan sinyal TV lokal saja, namun juga mampu memberikan layanan program dari berbagai stasiun TV lain di luar area operasinya. Transmisi siaran ke rumah-rumah penduduk saat itu masih menggunakan kabel koaksial.
Tahun 1962, sudah tercatat 800 sistem TV kabel yang melayani 850.000 pelanggan di Amerika. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saat itu ada tiga operator TV kabel terbesar yaitu Westinghouse, TelePrompTer dan Cox. Digitalisasi jaringan dimulai pada tahun 1970-an. Pada tahun 1972, sebuah jaringan stasiun pay-TV nasional pertama, Home Box Office (HBO) diluncurkan. Penggunaan satelit untuk transmisi sinyal ke seluruh wilayah di Amerika Serikat mulai menjadi bagian penting dari sistem TV kabel.
Sistem TV kabel juga mulai dikembangkan di berbagai negara. Di Belanda misalnya, sudah ada sekitar tahun 1969. Saat itu beberapa wilayah lokal membangun sistem TV kabel untuk meningkatkan kualitas penerimaan sinyal televisi. Sistem TV kabel juga berkembang di negara tetangganya, Belgia. Pengelolaan TV kabel dijalankan oleh pemerintah lokal setempat.
Di Inggris, meski berjalan lambat namun sistem TV kabel juga berkembang seiring dengan perkembangan dunia broadcasting televisi di negara itu. Pada tahun 1999, tercatat 20 persen dari jumlah rumah tangga di Inggris telah memiliki akses ke sistem TV kabel.
Sementara itu di Jepang, rencana pengembangan sistem TV kabel difokuskan pada area permukiman di perkotaan. Namun pada tahun 1999, penetrasi sistem TV kabel yang mencapai 20 persen justru lebih banyak di area permukiman di pedesaan dan pegunungan.
2.2. Fase Perkembangan Sistem TV Kabel
Timothy Hollins (1984:18-19) menjelaskan ada empat fase perkembangan sistem TV kabel. Yang pertama ialah teknologi TV kabel digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang mendasar, yaitu:
- untuk menerima sinyal siaran di tempat yang tidak terjangkau sinyal pemancar
- untuk meningkatkan kemampuan menerima siaran di tempat yang hampir tidak terjangkau sinyal, dan
- untuk mengurangi jumlah antena yang dipasang di atas rumah penduduk terutama yang bermukim di perkotaan dan area permukiman

Fase kedua ialah untuk mentransmisikan sinyal siaran televisi dari tempat lain yang jauh disamping transmisi siaran TV lokal.
Pada fase ketiga, mulai adanya perhatian pada kapasitas saluran yang dapat ditransmisikan oleh kabel, sehingga pelanggan TV kabel dapat menikmati berbagai tayangan yang bervariasi.
Sedangkan pada fase keempat merupakan pengembangan sistem dimana transmisi sinyal televisi hanya merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh operator. Pada fase ini operator TV kabel memberikan layanan lain misalnya homebanking, homeshopping, data transfer, electronic mail hingga videophone.
Teknologi transmisi berada di belakang setiap fase, terutama teknologi kabel. Dulu waktu pertama kali muncul, kabel koaksial digunakan untuk “membawa” sinyal dari antena ke pesawat televisi. Lalu digunakan kabel serat optik. Belakangan kombinasi antara kabel koaksial dan serat optik atau disebut Hybrid Fibre–Coaxial (HFC) juga sudah mulai digunakan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan kapasitas channel yang lebih banyak dan adanya transmisi dua arah sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data lewat jaringan TV kabel.
3. SISTEM KERJA DAN APLIKASI JARINGAN TV KABEL
3.1. Sistem Kerja TV Kabel
Sistem TV kabel dalam Hollins (1984:12) terbagi menjadi dua yaitu sistem Master Antenna Television (MATV) dan Community Antenna Television (CATV). MATV digunakan untuk melayani transmisi sinyal siaran televisi ke suatu area tertentu misalnya apartemen atau kompleks perumahan. Sedangkan CATV digunakan untuk melayani transmisi ke area yang lebih besar misalnya suatu kota dimana terdapat sejumlah besar rumah tangga.
Ada lima komponen utama dalam suatu konsep sistem jaringan TV kabel yaitu headend, trunk cable, distribution cable (yaitu kabel yang membentang di suatu area permukiman), drop cable (yaitu kabel yang dipasang pada suatu unit rumah tangga) dan perangkat terminal elektronik seperti VCR, modem dan lain-lain.

Pusat operasi transmisi disebut headend. Headend ini menerima sinyal dari stasiun televisi lokal maupun satelit, kemudian diproses dan ditransmisikan kepada pelanggan melalui kabel.
Dengan teknologi baru, cable modem atau modem kabel menjadi salah satu perangkat penting. Modem kabel ialah perangkat yang menghubungkan jaringan TV kabel sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim data.
Instalasi jaringan TV kabel pada suatu unit rumah tangga digambarkan sebagai berikut:

Ada dua struktur jaringan TV kabel yang banyak diterapkan. Yang pertama tree and branch system. Pada sistem ini, sinyal ditransmisikan sepanjang trunk cable melalui cabang-cabang dan sub-sub cabang. Setiap pelanggan menggunakan converter / decoder yang berfungsi untuk memilih frekuensi. Perangkat ini dipasang diantara jaringan kabel dan perangkat televisi.

Sistem ini kurang ekonomis karena harus tersedia perangkat decoder yang mahal. Sistem ini juga memiliki keterbatasan potensi seandainya ada fitur-fitur tambahan di masa mendatang.
Sementara itu, pada struktur jaringan yang kedua - yaitu switched-star system – sinyal didistribusikan melalui trunk cable dari headend ke sejumlah local center (hub). Di sini terdapat router yang dapat memperlancar lalu lintas transmisi jika suatu waktu sistem terganggu. Transmisi dari headend ke local center menggunakan kabel serat optik. Kemudian, transmisi diteruskan ke district center yang mengubungkan sekira 1.000 pelanggan. Transmisi menggunakan kabel koaksial. Dari sini transmisi diperluas menjadi beberapa bagian yang menghubungkan antara 150 hingga 300 pelanggan. Amplifier atau booster digunakan untuk memperluas sinyal.
Sistem ini memiliki beberapa keunggulan antara lain performance yang lebih baik dan pemeliharaan yang lebih efisien. Sistem ini juga bersifat adaptable dan fleksibel jika suatu waktu dilakukan upgrade dan penambahan fitur-fitur lain. Pada sistem tree and branch, setiap rumah harus terdapat amplifier sedangkan pada sistem switched-star terjadi pengurangan sejumlah amplifier. Teknologi kabel serat optik juga lebih mudah diterapkan pada sistem ini.
Karena sistem TV kabel menggunakan kabel sebagai sarana transmisi, maka bandwith menjadi hal yang penting. Bandwith adalah lebar frekuensi band pada suatu transmisi sinyal. Semakin besar bandwith suatu kabel maka semakin banyak informasi yang dapat ditransmisikan. Jadi, semakin kompleks informasi akan semakin besar kebutuhan bandwith pada kabel untuk mentransmisikannya.
Umumnya televisi membutuhkan kabel yang dapat mentransmisikan data minimum 100 Mbps (mega byte per second). Di bawah ini adalah kebutuhan bandwith dari masing-masing bentuk layanan.

3.2. Teknologi Hybrid Fibre-Coax (HFC) dan Modem Kabel
Kabel HFC merupakan teknologi baru dalam sistem jaringan TV kabel yang merupakan kombinasi antara kabel koaksial dan kabel serat optik. Kabel ini tersusun atas simpul-simpul optik yang mampu menghubungkan 1.000 pelanggan. Penggunaan kabel HFC memungkinkan transmisi sinyal channel televisi yang lebih banyak serta kemampuan transmisi dua arah dimana pelanggan dapat memanfaatkan layanan internet dan interactive-TV (i-TV).

Untuk itu, sebuah instrumen baru yaitu modem kabel diperlukan untuk mengakses content layanan multimedia dalam suatu jaringan TV kabel dengan kecepatan tinggi. Modem merupakan singkatan dari modulator-demodulator. Modulator berfungsi menerjemahkan data dari digital ke analog sehingga bisa ditransmisikan, sedangkan demodulator sebaliknya menerjemahkan data dari analog ke digital. Kecepatan akses modem kabel berkisar antara 3 hingga 56 Mbps.
Di bawah ini adalah tabel perbandingan kecepatan akses modem kabel dengan modem jenis lainnya untuk mengakses sebuah image sebesar 1 Mb.

Transmisi melalui modem kabel adalah yang paling efisien. Jika dibandingkan dengan ISDN (Integrated Service Digital Network) 64 Kbps untuk mengakses image sebesar 1 Mb saja kecepatan aksesnya bisa 100 kali lebih cepat.
Sedangkan jika masing-masing modem mengakses suatu klip audio atau video sebesar 5 Mb dengan durasi sekira 1,5 menit, maka kecepatan transmisinya adalah sebagai berikut:

3.3.Aplikasi sistem TV kabel
Sistem TV kabel terutama dengan menggunakan teknologi kabel HFC memungkinkan tersedianya berbagai bentuk layanan. Telah disinggung di bagian awal mengenai fase perkembangan sistem TV kabel, bahwa saat ini merupakan fase keempat perkembangan dimana transmisi sinyal siaran televisi hanya merupakan salah satu layanan dari sejumlah layanan yang diberikan kepada pelanggan.
Selama 24 jam nonstop pelanggan selain disuguhi tayangan dari puluhan stasiun televisi baik lokal dan internasional, juga dapat menikmati fasilitas / layanan lainnya seperti akses internet melalui komputer dengan kecepatan tinggi. Melalui internet – cukup dengan mendaftarkan diri ke salah satu ISP (Internet Service Provider) - pelanggan dapat menjelajah world wide web, chatting dan mengirim e-mail. Melalui fasilitas i-TV, pelanggan dapat melakukan chatting antar pelanggan TV kabel, mengirim SMS ke telepon seluler dan bermain games interaktif.
Untuk kepentingan bisnis, pelanggan dapat mengirimkan data-data dalam kapasitas yang besar kepada kliennya. Melalui sistem TV kabel, seseorang juga dapat bekerja di rumah. Hasil pekerjaan seluruhnya dapat ditransfer dari rumah ke kantor atau tempat dimana ia bekerja.
Berkaitan dengan pendidikan, seorang siswa dapat mengakses sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang ia butuhkan secara lebih efisien. Aplikasi TV kabel tidak hanya diterapkan di rumah, namun juga di sekolah. Para guru dapat memperoleh sumber yang lebih bervariasi. Layanan informasi umum yang disediakan content provider juga bermanfaat bagi pelanggan. Pelanggan dapat mengakses informasi mengenai ramalan cuaca, informasi tagihan-tagihan, informasi perbankan, daftar alamat atau direktori hingga informasi produk-produk baru dari suatu retailer.
Banyak keuntungan yang diperoleh melalui sistem TV kabel. Untuk melanggannya juga relatif terjangkau apalagi jika dikaitkan dengan sejumlah fitur dan layanan yang yang diberikan.
Namun begitu, ada pula kelemahan aplikasi sistem TV kabel. Diantaranya wilayah ketersediaan yang terbatas karena tidak semua wilayah bisa dijangkau oleh sistem ini. Bagi operator penyelenggara sistem, investasi untuk pembangunan infrastruktur kabel masih sangat mahal.
Gatot Tri R.
dari berbagai sumber
Selasa, 29 Mei 2012
sejarah pulau bangka
Pulau Bangka
Asal Mula Pulau Bangka
Pulau Bangka adalah pulau besar yang dikeliling oleh banyak pulau-pulau kecil, menyimpan banyak cerita sejarah dan peradaban yang besar sejak zaman dahulu. Letaknya yang strategis dengan kekayaan alam yang melimpah sejak pertama kali mampu direkam oleh catatan sejarah membuktikan bahwa Pulau Bangka adalah pulau yang bernilai historisitas tinggi.
Sebagai bagian dari sejarah besar, runtutan peristiwa yang pernah terjadi yang berkaitan dengan daerah ini juga menjadi perdebatan. Tidak saja perdebatan berkaitan dengan sejarah mula secara geografis, tetapi juga interaksi masyarakat didalamnya yang masih terus diperdebatkan oleh para peneliti dan tetua masyarakat didalamnya. Perdebatan tentang asal-usul kata Bangka sendiri adalah perdebatan yang belum final hingga sekarang.
Banyak versi yang mencoba memberikan interpretasi atas kata bangka, namun bukti fisik tentang asal-usul kata ini sendiri belum ditemukan kecuali usaha banyak ahli untuk menghubungkan analisis mereka dengan berbagai peristiwa. Versi sejarah yang tampaknya paling kuat adalah versi sejarah Kota Kapur. Ditemukannya bukti sejarah otentik berupa prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 masehi memulai perdebatan tersebut secara ilimiah. Prasasti yang ditemuka di Sungai Menduk (Kabupaten Bangka Barat Sekarang) tersebut berisikan 240 kata bahasa Sanskerta. Prasasti tersebut berisi tentang peringatan kepada masyarakat di wilayah Kerajaan Sriwijaya tentang larangan untuk melakukan pemberontakan. Peringatan tersebut jelas dibuat oleh penguasa kerajaan Sriwijaya pada masa itu sehingga dipekirakan bahwa Pulau Bangka pada masa Kerajaan Sriwijaya telah menjadi pusat aktivitas yang ramai. Dalam prasasti Kota Kapur, sama sekali tidak disebutkan kata Bangka. Namun para ahli sejarah banyak menghubungkan Bahasa Sanskerta yang digunakan pada prasasti Kota Kapur dengan kata vanca yang kemudian mengalami perubahan kata menjadi Bangka tampaknya bisa diterima dengan nalar.
Versi lain menyebutkan bahwa kata Bangka berasal dari kata Bangkai yang menunjukan bahwa kata bangka adala tempat pmbuangan bangkai pada masa penjajahan. Meski demikian, asal-usul kata ini tidak memiliki bukti ilmiah sehingga anlisis versi Kota Kapur di atas lebih bisa diterima oleh masyarakat kebanyakan. Sebuah majalah pada tahun 1846 yang bernama Tijdschrift voor Nederlandsch Indie memuat tulisan bahwa daerah yang disebut Banca adala pulau yang dulunya bernama Chinapata atau China-Batto (Chinapata diduga adala daerah yang dulu pernah dilaporkan oleh seorang pelaut bernama Jans Huyghens van Linschoteen pada tahun 1595 di Amsterdam). Dulu daerah yang disebut Banca mencakup Palembang dan meluas ke arah barat yang kemudian disebut Bangka-Hulu dan kemudian mengalami perubaha dialek menjadi Bengkulu sekarang ini. Ke arah Sumatera Timur, terdapat daerah yang bernama Bangka yang keyakinan banyak orang tentang kemungkinan ini tidak nampak terlau besar sehingga belakangan banyak orang yang bahkan tidak pernah mendengar cerita ini.
Pulau Bangka dan Sejarah
Belanda pertama kali mendarat di Nusantara tepatnya di Banten Pulau Jawa pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Cukup lama setelah itu belanda baru melirik Pulau Bangka sebaga salah satu daerah potensial penghasil timah. Ketika Belanda ingin masuk ke Pulau Bangka daerah ini masuk pada kekuasaan Kesultanan Palembang. Hubungan pertama antara VOC dan daerah Bangka Belitung terjadi pertama kalinya pada tahun 1668. Pulau Bangka pada masa itu berada dibawah kekuasaan Sultan Abdurrachman.
Sebuah catatan kontrak antara Belanda dan Sultan Palembang pada tanggal 10 juli 1668 sebagaimana disebutkan dalam buku Kepulauan Bangka Belitung dengan editor Achmad Sahabudin, dan kawan-kawan (2003) menyebutkan bahwa Kesultanan Palembang mengakui Belanda dengan usaha monopoli timahnya dan Belanda akan mlindungi Kesultanan Palembang. Berikutnya pada tahun 1722, Kesultanan Palembang yang berada dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Kamarudin mengadakan perjanjian yang berisi ketentuan bahwa VOC memegang hak monopoli perdagangan atas timah. Tahun-tahun setelahnya menunjukan hubungan dagang Belanda dan Kesultanan Palembang berlangsung sangat buruk, sebagai mana Ratu Mahmud Kamarudin gagal memerintah internalnya.
Awal Penambangan Timah
Penemuan timah petama kali di pulau Bangka memiliki beberapa versi. Setidaknya catatanya yang ditulis oleh Heidhues menyebutkan tiga versi penemuan, yakni pada tahun 1707, 1709, dan tahun 1711. timah pada masa awal penemuan tersebut merupakan komoditas yang sangat mudah dilihat karena timah terdapat dimana-mana. Horsfield dalam Heidhues mengatakan bahwa timah dengan mudah terlihat ketika penduduk setempat melakukan pembakaran ladang-ladang ubtuk ditanami oleh penduduk setempat. Logam timah tampak meleleh ketika penduduk melakukan pembakaran.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya timah pada masa awal abad ke-17 merupakan sebuah komoditas yang midah didapatkan. Hal ini menandakan betapa banyak kandungan timah yang ada di Pulau ini. Apalagi masa penambangan timah yang berlangsung selama 4 abad lebih dan hingga kini masa banyak penambangan timah yang dilakukan di berbagai tempat oleh penduduk dan beberapa perusahaan besar. Orang yang dianggap memperkenalkan penambangan timah di Pulau Bangka adalah orang-orang johor yang memiliki garis keturunan Cina yang beragama Islam dan juga merupakan kerabat Kesultanan Palembang. Abdulhayat dalam keluarga tersebut dan laki-lakinya yang bernama Wan Akub merupaka nama-nama yang banyak disebut dan dianggap merupaka orang-orang yang mempelopori penemuan timah di Mentok dan Pulau Bangka pada umumnya. Heidhues menyebutkan bahwa pada masuknya Orang-Orang johor tersebut, juga datang seorang Cina bernama Oen Asing (Boen Asiong) yang melakukan penambangan timah di kampung Belo Mentok. Orang ini pula yang melakukan berbagai macam gerakan pembaruan dalam penambangan timah. Didatangkan pada masa itu pekerja dari Cina, memperkenalkan penambangan timah dengan menggunakan mesin, teknik perapian untuk membakar timah yang lebih efisien, dan melakukan standarisasi bentuk dan berat timah.
Pada masa ini pula penambangan timah di Bangka mengenal istilah kuli dan kongsi. Kuli dalam ejaan lama koeli berasal dari bahasa Tamil yang artinya orang yang disewa. Sedangkan kongsi berasal dari bahasa Hakka, yaitu kwung-sze yang artinya penanganan atas dasar usaha usaha dan kepentingan bersama dengan tujuan mendapatkan keuntungan ekonomi bersama. Mulai dipekenalkan pula istilah tauke atau towkay yang artinya bos dan sinkeh yang artinya kuli Cina yang terikat pada tahun pertama dan bebas pada tahun kedua dan seterusnya.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sejarah penambangan timah pada abad ke-17 dan setelahnya adalah sejarah penambangan timah yang dilakukan oleh orang-orang Cina. Impor pekerja Cina dalam jumlah besar-besaran menyebabkan penduduk Bangka hingga sekarang juga banyak diwarnai kehidupan orang-orang Cina yang mula-mula datang untuk bekerja sebagai penambang pada akhirnya ikut memberikan andil dalam proses perkembangan kultural masyarakat lokal.
Tidak mengherankan jika saat ini penduduk Cina di Pulau Bangka mencapai 30 persen dari total jumlah penduduk propinsi ini. Sebagai salah satu bukti bahwa masyarakat etnis Cina sudah ada sejak dulu, masyarakat etnis Cina dapat dijumpai di berbagai pelosok di daerah Pulau ini. Sebutlah misalnya Mentok, Pangkalpinang, Toboali, Sungailiat, Belinyu, Koba, Sungiselan Jebus dan kampung-kampung kawasa penambang timah berpenduduk ramai.
Penduduk Asli Pulau Bangka
Definisi tentang penduduk asli Pulau Bangka hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa penduduk asli Pulau ini adalah Suku Melayu, padahal pembahasan sebelumnya nyebutkan bahwa Suku Melayu adalah eksodus secara perlahan-lahan penduduk yang datang dari kerajaan johor dan Kerajaan Lingga-Riau.
Sejarah dipulau ini juga diwarnai dengan kedatangan orang-orang bugis yang menjadi lanun dan menguasai dan menguasai pulau-pulau kecil dan daerah pesisir Bangka. Cina juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan perjalanan perkembangan demografis pulau ini. Sebuah buku yang ditebitkan pada tahun 1954 (anonim) berjudul Republik Indonesia Propinsi Sumatera Selatan menuliskan bahwa penduduk asli Pulau Bangka adalah mereka yang merupakan hasil pertalian perkawinan antara pelaut-pelaut yang datang dari Jawa, Palembang, Minangkabau, dan Bugis yang menjelma menjadi penduduk asli yang baru. Jadi tampaknya Pulau Bangka dan Belitung pada mulanya tidak berpenghuni, melainkan didatangi oleh penduduk dari daerah lain dan kemudian membentuk kultur khas daerah ini.
Pada sekitar pertengahan abad ke-17, pasukan dari Kerajaan johor dan Kerajaan Minang datang untuk membantu penguasa setempat menumpas para lanun-lanun yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kedua Kerajaan ini mendarat di Toboali dimana kemudian Kerajaan Minang menetap dan mempengaruhi budaya dan bahasa peduduk setempat, sedangkan Pasukan dari Kerajaan johor menuju Mentok dan kemudian menetap serta memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan budaya dan bahasa penduduk Mentok dan sekitarnya.
Pengaruh Kerajaan Minang di Toboali sangat terasa hingga sekarang, misalnya dari sudut bahasa yang cenderung mengganti huruf S dengan H. Hal ini dapat di indetifisikasi pada penggunaan bahasa yang digunakan di Minang. Pengaruh lain misalnya pada tradisi makanan seperti lemang di Toboali yang merupakan makanan khas Minang. Sedangkan pengaruh Melayu Johor yang sangat kuat ditampakkan pada ciri khas ke-Melayu-an yang sangat kental di Mentok, misalnya pada bahasa yang cenderung menggunakan E pepet, tradisi masyarakat Mentok juga mengidentifikasikan diri dengan tradisi Melayu Malaysia. Sementara itu, Heidhues menyebutkan bahwa seorang pejabat Belanda bernama J. Van den Bogaart datang ke Pulau Bangka pada tahun 1803 membagi penduduk Bangka pada waktu itu dalam 4 kasta, yaitu :
- Cina,
- Melayu,
- Orang Bukit (disebut juga Orang Gunung/Orang Darat),
- Orang Laut (Orang sekak)
Langganan:
Postingan (Atom)
